Selasa, 06 Oktober 2009
Senin, 05 Oktober 2009
Sejarah Kampung Jowo Sekatul
· Sejarah Kampoeng Djowo Sekatul Bermula dari cerita mitologi diatas, kami walau hanya sepenggal kecil berusaha untuk mewujudkan dalam bentuk yang sekarang ini.Pencarian,perburuan,pengamatan dan penelitian dilakukan sejak 1997,dan pada tahun 1998 ditemukan lahan ini yang bernama SEKATUL.Tanah Sekatul / Bumi Sekatul ini dinamakan Tanah Sabuk Banyu / Tanah Pusaka.Sejarahnya cukup panjang dan tua,bermula dari jaman Mataram Hindu.
Jaman Mataram Hindu abad ke 6 - 7 Masehi sebelum jaman Candi Borobudur yang pada waktu itu berada di"Dieng".Raja yang terkenal saat itu "Wangsa Sanjaya"yang berpindah tempat sebelumnya dari kerajaan kalingga di daerah Keling(Jepara)dengan ratunya yang terkenal bernama Ratu Shima,dimana Kerajaan Kalingga mengalami masa surut selelah diserang Kerajaan Padjajaran. Wangsa Sanjaya memerintahkan kepada para Empu untuk membangun Candi Prumasan di daerah Medini,dan dilanjutkan pembangunannya hingga candi Gedong Songo.Tanah Sekatul sangat strategis untuk tempat persinggahannya. Pada abad ke 16 Masehi,Raja Mataram Islam yang bernama Sultan Agung Hanyokro Kusumo menyerang Belanda di Batavia,dalam perjalanannya,para senopati dan prajuritnya berkumpul di tanah ini.Untuk merancang strategi bersama dengan Pangeran Djuminah,putra Raja Mataram I Kadipaten Kendal. Nah,karena disini dulunya digunakan untuk merancang strategi dan pertimbangan maka daerah kawasan ini dinamakan"Limbangan". Tanah Sekatul juga dinamakan Tanah "Sabuk Banyu"/"Tanah Kendit",karena secara alamiah dikelilingi aliran air,menurut kepercayaan orang jawa,dahulu tanah demikian disebut Tanah Pusaka.
Dikala Jaman Jepang ,penduduk disini sangat menderita dan makanan sangat sulit,dengan segala keterbatasannya penduduk harus menyambung hidup dengan memakan apa saja yang dapat dimakan,termasuk makanan sejenis "Katul".Untuk mengenang penderitaan tersebut dan mengingatkan anak cucu kelak supaya ingat sejarah maka tanah ini dinamakan"Sekatul". Sekatul juga dapat diartikan sari-sarinya padi,karena padi yang telah ditumbuk,segala gizi dan vitaminnya terkandung disini.Kemudian mulai tahun 1999 didirikan bangunan yang pertama sebagai Rumah Lanang,adapun sejarah rumah ini dulunya adalah Pendopo Kadipaten Mbagan dengan Adipatinya Pangeran Sekar (Sedolepen) Sorowiyoto letaknya didekat Lasem,wilayahnya mencakup Lasem,Rembang,dan sekitarnya,pada waktu itu (abad ke 15) Pendopo ini termasuk jenis rumah "Tadah Loh",yang artinya tempat kesuburan (tempat rejeki),sehingga dinamakan "Dalem Mbagan".
Kemudian pada tahun 2000 rumah wadon (Limasan) disambung di bagian belakang,rumah ini ditemukan ditengah hutan perbatasan Blora-Ngawi,letaknya didekat Tlogo Tuwung Desa Getas Dukuh Nogososro.Kendati rumahnya relatif baru,rumah tersebut diambil dari rumah yang dimana dulunya tempat tinggal Mpu Bharada kala jaman Kahuripan abad X,sehingga rumah Wadon ini dinamakan Dalem Bharada.Konon keris Kyai Nogososro dibuat olehnya.
Nah,untuk melengkapinya sesuai tradisi Jawa sebagai wujud rasa syukur,diadakanlah wilujengan dengan mempergelarkan Ringgit Purwo pada bulan Agustus 2000 dengan dalang Ki Manteb Sudarsono mengambil cerita "BIMO SUCI".Sekaligus memperingati hari lahirnya Indonesia,juga untuk memberi hiburan kepada masyarakat setempat. Tempat ini semula digunakan untuk beristirahat dan menenangkan diri jauh dari hiruk pikuk dan kesibukan hidup di kota.Dirasa masih kurang lengkap,maka pada tahun 2003 didirikan rumah untuk perenungan,berdoa,ataupun samadhi.Griyo ini ditemukan di Desa Tubanan Kecamatan Keling Kabupaten Jepara. Adapun ciri Griyo ini adalah metode pengerjaannya tanpa menggunakan pasah,hanya menggunakan pethel (sejenis kampak kecil) dan termasuk "unik" cara pembuatannya butuh ketekunan dan kesabaran sehingga sangat cocok untuk tempat berdoa.Berdasar tempat ditemukannya dan untuk mengenal sejarah,maka rumah tersebut diberi nama "Ndalem Bonokeling" karena disekitar area tersebut dulunya berdiri Kerajaan Kalingga dengan ratunya yang terkenal Ratu Shima.
Pada waktu pembuatannya,kami mempunyai seekor kambing yang sangat pandai bernama "Joko Kendil" dia berperan sangat besar sebagai mandor pengawas bagi para tukang yang bekerja pada saat itu.Sekarang,kambing itu sudah meninggal,dan dikubur didepan rumah tersebut,dan untuk mengenang jasanya diberi tempat sebagai petilasan "Joko Kendil" bagian kepalanya diawetkan dan kulitnya disungging "Bimo Suci". Cerita tentang penggembala kambing Joko Kendil dengan banyak pejabat tinggi, diantaranya sekarang ada yang duduk menjadi menteri.Kambing tersebut dapat membedakan orang baik,orang buruk,bahkan orang yang berniat buruk. Diketemukan di Desa Lebak Sari Kabupaten Blora pada tahun 1999,waktu itu berusia 3 bulan.setelah menginjak 1 tahun ternyata kambing itu sangat pandai,kemudian dimulailah penggembalaan terus menerus tiap hari siang dan malam selama 3 tahun.setelah dirasa cukup,dipindahkan di Sekatul ini.Dipercaya kambing ini titisan Joko Kendil. Dalam Babad Tanah Jawi diceritakan Raden joko Sesuruh/Raden Wijaya mempunyai sekar kedaton Dewi Roso Kemuning, kemudian diadakan sayembara menangkap Duratmoko yang sangat sakti mandraguna Blawong Merteng Sari yang kalau malam berubah menjadi satria tampan sebagai titisan Ciung Wanara.
Selanjutnya, pada tahun 2005 mulai kami menemukan rumah Joglo di daerah Pati, yang berfungsi sebagai Sasono Hondrowino ( Joglo pandang ). Untuk mengenang sejarah sesuai tempat ditemukannya, diberi nama " Ndalem Joyokusuma" sesuai cerita babad kadipaten Pati dengan Adipati I Joyo Kusumo. Berikutnya dibangun rumah baru sebagai temapat memasak/dapur dan diberi nama Dalem "Jayengan" . Pada sabtu pahing tahun 2005 mulai dibuka untuk umum dan diberi nama Wisata Kampung Jowo "SEKATUL" sudah tentu terjadi perkembangan dan dinamika dari konsep Kasempurnan Djawa untuk pribadi menjadi untuk kepentingan umum.Konsep "Kampung Jawa" sungguh konsep yang cukup rumit dan berat pengejawantahannya, untuk disetting menjadi sebuah perkampungan era Pra Kolonialisme. Berbahan dasar alam, kayu, bata, batu, bambu, dan lain-lain; ini bentuk lain dari pencarian identitas dan jati diri. Dengan banyak kekurangan disana-sini karena berusia dini dan perubahan setting, harap para pengunjung dan masyarakat memahaminya. Sumbang saran, masukan, dan dukungan sangat kami butuhkan demi terwujudnya konsep tersebut. Diharapkan menjadi tempat wisata yang bermanfaat, tidak sekedar makan, minum, wisata pada umumnya.
Namun, lebih jauh daripada itu, sebagai tempat olah roso, nglaras dan roso yang menep, penyatuan agar dekat dengan alam.Dari interaksi tersebut smoga membuka nurani kita dan menemukan jadidiri/identitas diri menuju jalan selamat. " Memayu Hayuning Bawono". Juga menambah wawasan tentang jenis-jenis rumah Jawa, Katuranggan hewan, Pethungan Dina dan lain-lain.Rumah dibuat apa adanya, asli dengan tetap bersejarah masih lebih baik, daripada indah tapi kehilangan keasliannya. Dari interaksi tersebut juga dapat mengakrabkan hubungan keluarga yang kurang harmonis antara orang tua dan anak, silaturahmi, kegiatan merukunkan tetangga ( arisan ), pertemuan-pertemuan, seminar, rapat, reuni, ulang tahun, pesta nikah, dan lain-lain.Rapat, seminar, diskusi ikmiah memberi suasana yang nyaman dan santai, ini akan membangkitkan ide-ide cemerlang dan bermanfaat. Persawahan yang permai, kehidupan desa dan petani yang sederhana dan bersahaja, jauh dari kesan kemrungsung atau gelisah, sungguh pelajaran yang berharga. Gemerciknya air dan anggunnya aliran sungai sungguh menentramkan. Udara yang sejuk dan pohon-pohon yang hijau bebas dari polusi.Semua menawarkan gaya hidup baru ( new lifestyle back to nature ) yang sedsang trend saat ini. Orang sudah semakin jenuh dengan tawaran kemewahan kota, yang semu dengan bangunan tinggi menjulang sebagai simbol keangkuhan.Setiap bangunan diusahakan bermakna filosofis Jawa dan melalui prosesi panjang dan melelahkan sebagai kesinambungan pembangunan dan tercapainya tujuan terbentuknya Kampung Jawa.
Koleksi Tambahan : Merak Bromo, ayam jago bertanduk; Pesanggrahan Hargo di puncak Gunung Lawu; Kimo ( kerang Besar ) yang di temukan di dasar samudra dekat pantai Bima Pulau Sumbawa yang sekarang di bawa ke Museum Heinreich Harra, Austria.Kisah Sunan Lawu/Brawijaya pungkasan ( terakhir ) dan abdi kinasih Sabdo Palon, dengan gempa laut Selatan dan gunung Merapi meletus kearah Barat daya, Tsunami, tanah longsor, banjir bandang, kerusakan dan sejumlah bencana lain di tengarai oleh sebagian masyarakat pedesaan Jawa sebagai saat datangnya SABDO PALON NAGIH JANJI.Agar orang Jawa kembali sadar pentingnya budi pekerti yang luhur, jiwa yang mulia yang selama ini ditinggalkann, daripada tergila-gila duniawi yang tak akan kunjung selesai
Jaman Mataram Hindu abad ke 6 - 7 Masehi sebelum jaman Candi Borobudur yang pada waktu itu berada di"Dieng".Raja yang terkenal saat itu "Wangsa Sanjaya"yang berpindah tempat sebelumnya dari kerajaan kalingga di daerah Keling(Jepara)dengan ratunya yang terkenal bernama Ratu Shima,dimana Kerajaan Kalingga mengalami masa surut selelah diserang Kerajaan Padjajaran. Wangsa Sanjaya memerintahkan kepada para Empu untuk membangun Candi Prumasan di daerah Medini,dan dilanjutkan pembangunannya hingga candi Gedong Songo.Tanah Sekatul sangat strategis untuk tempat persinggahannya. Pada abad ke 16 Masehi,Raja Mataram Islam yang bernama Sultan Agung Hanyokro Kusumo menyerang Belanda di Batavia,dalam perjalanannya,para senopati dan prajuritnya berkumpul di tanah ini.Untuk merancang strategi bersama dengan Pangeran Djuminah,putra Raja Mataram I Kadipaten Kendal. Nah,karena disini dulunya digunakan untuk merancang strategi dan pertimbangan maka daerah kawasan ini dinamakan"Limbangan". Tanah Sekatul juga dinamakan Tanah "Sabuk Banyu"/"Tanah Kendit",karena secara alamiah dikelilingi aliran air,menurut kepercayaan orang jawa,dahulu tanah demikian disebut Tanah Pusaka.
Dikala Jaman Jepang ,penduduk disini sangat menderita dan makanan sangat sulit,dengan segala keterbatasannya penduduk harus menyambung hidup dengan memakan apa saja yang dapat dimakan,termasuk makanan sejenis "Katul".Untuk mengenang penderitaan tersebut dan mengingatkan anak cucu kelak supaya ingat sejarah maka tanah ini dinamakan"Sekatul". Sekatul juga dapat diartikan sari-sarinya padi,karena padi yang telah ditumbuk,segala gizi dan vitaminnya terkandung disini.Kemudian mulai tahun 1999 didirikan bangunan yang pertama sebagai Rumah Lanang,adapun sejarah rumah ini dulunya adalah Pendopo Kadipaten Mbagan dengan Adipatinya Pangeran Sekar (Sedolepen) Sorowiyoto letaknya didekat Lasem,wilayahnya mencakup Lasem,Rembang,dan sekitarnya,pada waktu itu (abad ke 15) Pendopo ini termasuk jenis rumah "Tadah Loh",yang artinya tempat kesuburan (tempat rejeki),sehingga dinamakan "Dalem Mbagan".
Kemudian pada tahun 2000 rumah wadon (Limasan) disambung di bagian belakang,rumah ini ditemukan ditengah hutan perbatasan Blora-Ngawi,letaknya didekat Tlogo Tuwung Desa Getas Dukuh Nogososro.Kendati rumahnya relatif baru,rumah tersebut diambil dari rumah yang dimana dulunya tempat tinggal Mpu Bharada kala jaman Kahuripan abad X,sehingga rumah Wadon ini dinamakan Dalem Bharada.Konon keris Kyai Nogososro dibuat olehnya.
Nah,untuk melengkapinya sesuai tradisi Jawa sebagai wujud rasa syukur,diadakanlah wilujengan dengan mempergelarkan Ringgit Purwo pada bulan Agustus 2000 dengan dalang Ki Manteb Sudarsono mengambil cerita "BIMO SUCI".Sekaligus memperingati hari lahirnya Indonesia,juga untuk memberi hiburan kepada masyarakat setempat. Tempat ini semula digunakan untuk beristirahat dan menenangkan diri jauh dari hiruk pikuk dan kesibukan hidup di kota.Dirasa masih kurang lengkap,maka pada tahun 2003 didirikan rumah untuk perenungan,berdoa,ataupun samadhi.Griyo ini ditemukan di Desa Tubanan Kecamatan Keling Kabupaten Jepara. Adapun ciri Griyo ini adalah metode pengerjaannya tanpa menggunakan pasah,hanya menggunakan pethel (sejenis kampak kecil) dan termasuk "unik" cara pembuatannya butuh ketekunan dan kesabaran sehingga sangat cocok untuk tempat berdoa.Berdasar tempat ditemukannya dan untuk mengenal sejarah,maka rumah tersebut diberi nama "Ndalem Bonokeling" karena disekitar area tersebut dulunya berdiri Kerajaan Kalingga dengan ratunya yang terkenal Ratu Shima.
Pada waktu pembuatannya,kami mempunyai seekor kambing yang sangat pandai bernama "Joko Kendil" dia berperan sangat besar sebagai mandor pengawas bagi para tukang yang bekerja pada saat itu.Sekarang,kambing itu sudah meninggal,dan dikubur didepan rumah tersebut,dan untuk mengenang jasanya diberi tempat sebagai petilasan "Joko Kendil" bagian kepalanya diawetkan dan kulitnya disungging "Bimo Suci". Cerita tentang penggembala kambing Joko Kendil dengan banyak pejabat tinggi, diantaranya sekarang ada yang duduk menjadi menteri.Kambing tersebut dapat membedakan orang baik,orang buruk,bahkan orang yang berniat buruk. Diketemukan di Desa Lebak Sari Kabupaten Blora pada tahun 1999,waktu itu berusia 3 bulan.setelah menginjak 1 tahun ternyata kambing itu sangat pandai,kemudian dimulailah penggembalaan terus menerus tiap hari siang dan malam selama 3 tahun.setelah dirasa cukup,dipindahkan di Sekatul ini.Dipercaya kambing ini titisan Joko Kendil. Dalam Babad Tanah Jawi diceritakan Raden joko Sesuruh/Raden Wijaya mempunyai sekar kedaton Dewi Roso Kemuning, kemudian diadakan sayembara menangkap Duratmoko yang sangat sakti mandraguna Blawong Merteng Sari yang kalau malam berubah menjadi satria tampan sebagai titisan Ciung Wanara.
Selanjutnya, pada tahun 2005 mulai kami menemukan rumah Joglo di daerah Pati, yang berfungsi sebagai Sasono Hondrowino ( Joglo pandang ). Untuk mengenang sejarah sesuai tempat ditemukannya, diberi nama " Ndalem Joyokusuma" sesuai cerita babad kadipaten Pati dengan Adipati I Joyo Kusumo. Berikutnya dibangun rumah baru sebagai temapat memasak/dapur dan diberi nama Dalem "Jayengan" . Pada sabtu pahing tahun 2005 mulai dibuka untuk umum dan diberi nama Wisata Kampung Jowo "SEKATUL" sudah tentu terjadi perkembangan dan dinamika dari konsep Kasempurnan Djawa untuk pribadi menjadi untuk kepentingan umum.Konsep "Kampung Jawa" sungguh konsep yang cukup rumit dan berat pengejawantahannya, untuk disetting menjadi sebuah perkampungan era Pra Kolonialisme. Berbahan dasar alam, kayu, bata, batu, bambu, dan lain-lain; ini bentuk lain dari pencarian identitas dan jati diri. Dengan banyak kekurangan disana-sini karena berusia dini dan perubahan setting, harap para pengunjung dan masyarakat memahaminya. Sumbang saran, masukan, dan dukungan sangat kami butuhkan demi terwujudnya konsep tersebut. Diharapkan menjadi tempat wisata yang bermanfaat, tidak sekedar makan, minum, wisata pada umumnya.
Namun, lebih jauh daripada itu, sebagai tempat olah roso, nglaras dan roso yang menep, penyatuan agar dekat dengan alam.Dari interaksi tersebut smoga membuka nurani kita dan menemukan jadidiri/identitas diri menuju jalan selamat. " Memayu Hayuning Bawono". Juga menambah wawasan tentang jenis-jenis rumah Jawa, Katuranggan hewan, Pethungan Dina dan lain-lain.Rumah dibuat apa adanya, asli dengan tetap bersejarah masih lebih baik, daripada indah tapi kehilangan keasliannya. Dari interaksi tersebut juga dapat mengakrabkan hubungan keluarga yang kurang harmonis antara orang tua dan anak, silaturahmi, kegiatan merukunkan tetangga ( arisan ), pertemuan-pertemuan, seminar, rapat, reuni, ulang tahun, pesta nikah, dan lain-lain.Rapat, seminar, diskusi ikmiah memberi suasana yang nyaman dan santai, ini akan membangkitkan ide-ide cemerlang dan bermanfaat. Persawahan yang permai, kehidupan desa dan petani yang sederhana dan bersahaja, jauh dari kesan kemrungsung atau gelisah, sungguh pelajaran yang berharga. Gemerciknya air dan anggunnya aliran sungai sungguh menentramkan. Udara yang sejuk dan pohon-pohon yang hijau bebas dari polusi.Semua menawarkan gaya hidup baru ( new lifestyle back to nature ) yang sedsang trend saat ini. Orang sudah semakin jenuh dengan tawaran kemewahan kota, yang semu dengan bangunan tinggi menjulang sebagai simbol keangkuhan.Setiap bangunan diusahakan bermakna filosofis Jawa dan melalui prosesi panjang dan melelahkan sebagai kesinambungan pembangunan dan tercapainya tujuan terbentuknya Kampung Jawa.
Koleksi Tambahan : Merak Bromo, ayam jago bertanduk; Pesanggrahan Hargo di puncak Gunung Lawu; Kimo ( kerang Besar ) yang di temukan di dasar samudra dekat pantai Bima Pulau Sumbawa yang sekarang di bawa ke Museum Heinreich Harra, Austria.Kisah Sunan Lawu/Brawijaya pungkasan ( terakhir ) dan abdi kinasih Sabdo Palon, dengan gempa laut Selatan dan gunung Merapi meletus kearah Barat daya, Tsunami, tanah longsor, banjir bandang, kerusakan dan sejumlah bencana lain di tengarai oleh sebagian masyarakat pedesaan Jawa sebagai saat datangnya SABDO PALON NAGIH JANJI.Agar orang Jawa kembali sadar pentingnya budi pekerti yang luhur, jiwa yang mulia yang selama ini ditinggalkann, daripada tergila-gila duniawi yang tak akan kunjung selesai
Langganan:
Komentar (Atom)